Mentari Terbit di Bumi, namun Terbenam di Hati


Tertunduk wajah dan hati, merasakan dentuman dahsyat di dada.

Semua sendi terasa runtuh, terhantam badai yang lebih kejam dari badai yang ada.

Ketika tak ada lagi tempat untuk berteduh di kala hujan lebat.

Ketika tak ada lagi payung di saat panas menyengat.

Meskipun mentari menguning terbit di bumi, namun serasa terbenam di hati.

Merasa sendiri… selalu sepi…

Terbentang bayang-bayang yang tak pasti…

Merasa salah…. selalu salah….

Meski berniat hanya untuk mengalah…

“Mengapa semua jadi begini…, aku membayangkan sesuatu yang indah…” demikian hati merintih…

Bertahan dan berharap badai segera berhenti… hujan lebat mereda…

Berharap mentari itu terbit kembali…. meskipun rasanya… oh tak mungkin terjadi…

Burung yang ingin terbang jangan disangkar…

Hati yang ingin pergi jangan ditahan…

Alasan kata bukanlah masalah…

Apapun kenyataannya, tetaplah aku salah…

Begitulah dunia yang mudah dibangun, mudah juga runtuh adanya…

Biarkanlah mentari itu terbenam… masih ada bulan yang akan terangi…

Jika bulan pun terbenam… masih ada cahaya di dalam hati….

Jika cahaya itu pun padam… maka biarlah…. biarlah…

Ketiadaan dan kesunyian, dengan sedikit kegetiran masih setia menemani….

(Syair kiriman Arief Wibisono)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s